Belajar Menulis-(Teks Argumentasi) Tidak Didukungnya Kegiatan Belajar Mengajar di Daerah Terpencil

 Tema: Pendidikan di Indonesia di daerah terpencil.

Hallo semua..

Kali ini saya akan membagikan hasil tulisan saya mengenai teks argumentasi. Jika ada kesalahan silakan dikoreksi :)


Tidak Didukungnya Kegiatan Belajar Mengajar di Daerah Terpencil


Penulis: Anis Endang Sunarsih


 

            Pendidikan merupakan fondasi penting yang harus dimiliki tiap individu sebagai bekal guna menjalani kehidupan dimasa mendatang. Dengan pendidikan seseorang akan terhindar dari kebodohan. Seseorang yang berpendidikan memiliki pola pikir yang berbeda, hal ini dapat dilihat pada saat ia mengambil keputusan. Orang tersebut cenderung berpikir jangka panjang dan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Seiring berjalannya waktu sistem pendidikan yang ada di Indonesia mulai berubah bersamaan dengan berkembangnya zaman dan teknologi. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari pergantian kurikulum belajar yang berlaku, hingga saat ini, setidaknya sistem pendidikan di Indonesia telah berganti kurikulum sebanyak 10 kali, dimulai sejak tahun 1947.

            Dengan berkembangnya zaman yang semakin maju, diharapkan anak didik maupun tenaga pendidik/guru dapat memanfaatkan teknologi yang ada untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Pemerintah Indonesia mendukung jalannya pendidikan dengan memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dari berbagai aspek. Sayangnya, fasilitas tersebut tidak dapat dinikmati secara merata oleh anak didik yang ada di Indonesia. Khususnya di daerah-daerah terpencil. Padahal berdasarkan undang-undang tercantum bahwa pendidikan semestinya dilaksanakan secara adil, demokratis, serta tidak mendiskriminasi.

            Tidak bisa dipungkiri dengan adanya fasilitas mendukung, kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan mudah tanpa hambatan. Fasilitas-fasilitas pendukung tersebut digolongkan ke dalam dua hal. Golongan pertama ialah fasilitas penunjang anak didik maupun tenaga pendidik untuk menuju ke sekolah. Berbeda dengan kondisi di kota-kota besar yang pada umumnya banyak alternatif/fasilitas yang tersedia, mulai dari medan jalanan yang sudah beraspal, banyaknya transportasi umum, bahkan fasilitas pendukung seperti telepon genggam dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota besar. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan mereka yang berada di daerah-daerah terpencil. Pada umumnya mereka yang berada di daerah tersebut memerlukan perjuangan lebih untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah. Seperti yang kita tau bahwa daerah terpencil khususnya di Indonesia banyak yang belum terjamah teknologi dan perkembangan dalam bidang lainnya. Mulai dari jalanan yang belum tersentuh aspal, sulitnya menemukan transportasi umum, bahkan aliran listrik masih terbilang sulit. Golongan kedua yaitu fasilitas belajar yang ada di sekolah masih jauh dari kata layak. Bukan tanpa sebab, justru fasilitas pendukung yang ada di sekolah adalah yang terpenting. Bayangkan jika suatu sekolah tidak memiliki penerangan, koleksi buku di perpustakaan sedikit, peralatan belajar yang apa adanya, dan fasilitas berbasis teknologi seperti komputer yang tidak terpenuhi dengan baik. Hal ini tentunya akan menjadi penghambat bagi tenaga pendidik maupun anak didik dalam melakukan proses belajar mengajar. Tak heran jika hal tersebut menjadi pokok dari permasalahan yang ada. Jika seorang anak didik memiliki semangat belajar tinggi namun tidak didukung dengan fasilitas penunjang belajar yang ada sama saja bohong. Memang benar mereka masih bisa belajar dan mendapatkan ilmu dengan semestinya. Namun, ilmu yang mereka dapatkan masih tergolong standar. Ilmu yang mereka dapatkan masih tertinggal jauh dengan ilmu yang didapat anak didik yang belajar dengan didukung fasilitas lengkap, khususnya di kota-kota besar.

            Pada tahun 2016-2017 sebuah situs blog ternama yaitu Bank Dunia Baru melakukan survei ke 270 sekolah dasar yang berada di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Survei tersebut diperoleh dari berbagai responden terkait yaitu, kepala sekolah, guru, peserta didik, komite sekolah, orang tua dan kepala desa setempat. Hasil survei menunjukkan bahwa sekolah dan desa menghadapi tantangan konektivitas yang mungkin menghalangi tenaga pendidik terbaik untuk mengajar di daerah tersebut. Secara rata-rata lokasinya berjarak 149 km atau lima jam dari kota, hanya 29% yang terhubung dengan jaringan listrik, dan hanya 17% yang memiliki akses internet. Hasil survei mengindikasikan keragaman alokasi sumber daya, 91% sekolah memiliki toilet dengan rasio jender yang seimbang, 54% memiliki perpustakaan, namun hanya 39% memiliki buku teks yang memadai. Jika dilihat dari hasil presentase tersebut dapat dikatakan sarana dan prasarana pendukung masih belum terpenuhi. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang terletak di daerah terpencil.

            Kurang mumpuninya sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar yang terletak di sekolah-sekolah daerah terpencil menjadi penghalang bagi anak didik maupun tenaga pendidik. Hal tersebut jika tidak ditindak dengan serius akan berdampak besar bagi kualitas seorang anak didik. Mereka yang seharusnya mampu menjadi terhalang karena berbagai faktor penghalang. Sudah semestinya pemerintah daerah setempat menanggapi masalah ini dengan serius. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih, khususnya pada bidang pendidikan daerah setempat. Selain itu, perlunya dukungan dari pemerintah untuk sekolah-sekolah yang kurang mumpuni, dukungan tersebut dapat berupa dana maupun program pembangunan dan pengembangan.

 Sumber:

Gambarhttp://blogs.worldbank.org/sites/default/files/styles/full_width/public/blogs-images/2020-02/kiat_guru_blog_2_0.jpg?itok=ATpSY7pi

Undang-undang http://bem.rema.upi.edu/kajianzonasippdb/

Data hasil survei https://blogs.worldbank.org/id/eastasiapacific/tantangan-pelaksanaan-pendidikan-dasar-di-daerah-perdesaan-dan-tertinggal 

Komentar